Feeds:
Pos
Komentar

Dalam pertemuan Pj.Bupati Kanira, Drs.T.Hulu, dengan masyarakat Kanira Jakarta, Sabtu 30 Januari 2010, setelah Pj.Bupati menyampaikan keberadaan Kanira saat ini dan apa yang sudah dilaksanakan sebagai Penjabat Bupati, maka terjadi dialog dan diskusi. Agar pembaca yang tidak hadir dapat memperoleh informasi tentang apa saja yang ditanyakan atau yang diharapkan dalam dialog itu maka, pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari hadirin, kami muat dalam tulisan ini.

1. Ama Tianto : Dari bidang Kesehatan, apa konsep agar rakyat Kanira dapat menuju kepada “Masyarakat Sehat”. Dari bidang Pertanian, apa konsep untuk mengembangkan pertanian di Kanira, sehingga mampu swasembada beras. Dan apa Visi internal serta eksternal Bupati dalam membangun Kanira.

2. Ama Excel : Bagaimana mempersiapkan Pilkada agar semua bakal calon dapat bermain baik. Kasus penerimaan CPNS di Kanira. Berapa lama waktunya dan berapa biaya dibutuhkan untuk menciptakan Kanira sebagai Sibolga saat ini. Lanjut Baca »

Iklan

Masyarakat Kanira se Jabodetabek sungguh sangat bergembira, ketika Sabtu, 30 Januari 2010 dapat bertatap muka dan sekaligus berdialog dengan Pj.Bupati Kanira Bapak Drs.T.Hulu (Ama Vika) di Ruang Cleva Hotel Mega Jl.Proklamasi Jakarta Pusat. Karena pertemuan ini yang pertama setelah Kanira diresmikan sebagai DOB dan memiliki Pejabat Bupati, maka Pj.Bupati membawa sekian banyak Staf, beberapa Kepala Bagian di Pemda Kanira. Mereka yang bersama dengan Bupati adalah : Elizanolo Hulu (Kabag Pendapatan), Toloni Waruwu (Ka Bappeda), Edison Gea (Kabag Umum), Edward Zega (Kabag Keuangan), Yosafati Hulu (Kabag Hukum), Kristian Zai (Plt Kadis Kesehatan), M.Zega (Plt Kadis PU), ditambah dengan beberapa eselon III. Bupati juga datang bersama dengan isteri dan seorang ajudan.

Acara dimulai pada pukul 10.30 wib, diawali dengan pengantar dan penjelasan singkat dari pembawa acara (mc), Ama Tofa Zaluchu. Kemudian menyanyikan lagu “Tano Niha”, yang dipimpin oleh Ama Ivas Waruwu. Tiba pada acara dialog yang dimoderatori oleh Ama Ita Baeha, didahului dengan penyampaian informasi oleh Pj.Bupati Kanira mengenai apa sudah terjadi atau apa yang sudah dilakukan dalam kurun waktu kurang lebih 6 bulan sejak dilantik tanggal 26 Mei 2009. Apa yang disampaikan oleh Pj.Bupati nampak bahwa tidak hanya yang terakit dengan urusan penataan organisasi pemerintahan, malah juga potensi-potensi yang ada dan yang dapat segera dikembangkan di Nias Utara. Selain itu hambatan-hambatan yang tentu saja menghadang di depan mata, seperti infrastruktur, SDM dan lain sebagainya. Pj.Bupati juga menegaskan bahwa masih ada dua tugas yang belum terlaksana tetapi sedang dipersiapkan, yaitu memasilitasi terbentuknya DPRD Kanira dan melaksanakan Pilkada untuk adanya Bupati dan Wakil Bupati defenitif. Agar para teman-teman dapat mengikuti “apa yang ada” di Kanira saat ini, maka bahan dari Pj.Bupati kami sampaikan selengkapnya berikut ini.

EKSPOS PEJABAT BUPATI NIAS UTARA
PADA ACARA RAMAH TAMAH
DENGAN MASYARAKAT NIAS UTARA SE JABODETABEK
JAKARTA, 30 JANUARI 2010

PEMBENTUKAN KAB. NIAS UTARA

DIAWALI DARI ASPIRASI SELURUH ELEMEN MASYARAKAT NIAS UTARA YANG TERWADAHI DALAM BADAN PERSIAPAN PEMEKARAN KAB. NIAS UTARA (BPP-KANIRA) Lanjut Baca »

Kabupaten Nias Utara yang sudah setahun lebih menjadi Daerah Otonomi Baru dan sudah setengah tahun memiliki Penjabat Bupati, hari Senin 4 Januari 2010 lalu mengadakan acara “Syukuran Natal dan Tahun Baru 2010” di halaman kantor Bupati di Lotu. Acara syukuran itu selain dihadiri oleh seluruh Camat, beberapa kepala desa, para pegawai di lingkungan Pemda Kanira, juga dihadiri oleh Ketua DPRD Kabupaten Nias, Rasali Zaluchu,S.Ag dan Isteri, serta P.Herman Baeha Ketua BPP Kanira Jakarta, yang kebetulan saat itu sedang berada di Nias.

Acara syukuran ini yang dimulai pada pukul 10.30 diawali dengan ibadah dan renungan yang dipimpin oleh Pdt.T.Gea,STh., pendeta BNKP Resort kota Lotu. Kemudian dilanjutkan dengan kata-kata sambutan, yang diselingi oleh vocal group dari kelompok “VG The Best Kanira”, yang tampil beberapa kali. Selain kata sambutan oleh Ketua DPRD, juga sambutan disampaikan oleh Ketua BPP Kanira, yang mewakili masyarakat Kanira di luar Nias. Sementara Pj.Bupati Bapak Ama Vica Hulu memberikan Pesan Natal dan Tahun baru 2010. Setelah sambutan-sambutan acara diakhiri dengan ramah-tamah melalui makan siang bersama. Lanjut Baca »

MUDIK DAN DIALOG INFORMAL

Hari ini tanggal 1 Desember 2009. Natal dan Tahun Baru sudah dekat. Bahkan gereja-gereja sudah mulai merayakan minggu Adven pertama pada minggu 29 November kemarin. Konon bagi kebanyakan warga Nias yang berdomisili diperantauan, merayakan Natal dan Tahun Baru tetap merasa lebih afdol atau merasa sangat berbeda ketika merayakannya bersama dengan orang tua, saudara atau handai taulan di kampung halaman. Walau perasaan atau emosi itu, sudah mulai berkurang seiring dengan lamanya seseorang di perantauan, atau karena orang tua di kampung halaman sudah tidak ada lagi, atau memiliki pasangan hidup yang bukan berasal dari Nias, atau bisa juga masih terkendala dengan faktor ekonomi. Namun saya yakin bahwa masih banyak warga Nias yang tetap rindu untuk tetap merayakan Natal dan Tahun baru di tanah kelahirannya.

Sudah lebih lima belas tahun, saya bersama keluarga tidak merayakan Natal dan Tahun Baru di kampung halaman. Persisnya di Kampung Kare Lahewa, Desa Hilihati, Kecamatan Lahewa, Kabupaten Nias Utara. Tapi bukan berarti saya tidak pernah pulang kampung. Malah ketika pemekaran Kabupaten Nias lagi hangat-hangatnya, saya sering mendampingi Tim dari Jakarta untuk melihat pulau Nias, dan kadang saya ambil kesempatan untuk mampir di kampung beberapa jam atau sampai satu hari. Oleh karena itu selagi masih sehat dan kuat, saya sedang berencana untuk mudik akhir tahun ini bersama isteri dan ketiga orang anak saya yang sedang menanjak dewasa. Namun inipun hanya bisa untuk menikmati akhir tahun dan tahun baru di kampung, karena Natal masih harus berada di Jakarta. Untuk meringankan biaya saya berencana lewat jalan darat, menyusuri daratan sumatera, hitung-hitung sambil traveling bersama keluarga tetapi dengan biaya yang terjangkau. Bahkan sampai saya katakan kepada anak-anak, kalau malam tiba, kendaraan kita parkir di depan kantor polisi dan kita tidur di mobil saja. Kami rencana akan berangkat dari rumah setelah mengikuti kebaktian Natal tanggal 25 Desember dan meninggalkan Nias sekitar tanggal 6 Januari 2010 kembali ke Jakarta. Lanjut Baca »

Bukit ini dirubuhkan oleh bunda untuk mengambil batunya.Peribahasa “sorga di telapak kaki ibu” belum sepenuhnya dapat dimengerti apa maknanya. Kata “sorga” itu sendiri tentu menggambarkan keindahan, kebahagiaan, kedamaian. Lalu apakah gambaran itu yang senantiasa mengiringi langkah dan kehidupan seorang ibu atau bunda ? Seorang wanita pada momen-momen tertentu dalam hidupnya, ia pasti merasakan apa yang dinamakan kebahagiaan dan keindahan. Paling tidak, misalnya ketika ia dinobatkan sebagai seorang ratu kala menikah membentuk sebuah rumah tangga. Tidak lama kemudian ketika melahirkan anak-anaknya di bumi ini, sempurnalah dia sebagai seorang perempuan. Begitu juga kelak ketika anak-anak itu semakin besar, kemudian sang ibu menyaksikan keberhasilan-keberhasilan yang anak-anaknya peroleh. Apalagi sampai pada saat dapat menyaksikan cucu-cucunya, betapa bahagia hidup yang dijalani oleh seorang ibu.

Namun para bunda yang tinggal di pedesaan, dimana kehidupan serba kekurangan, mereka tak pernah terbebas dari pekerjaan kasar dan berat. Untuk mempertahankan hidup atau membiayai putra-putri mereka yang menuntut ilmu di negeri rantau, pekerjaan seberat apapun, asal halal, mereka melakukannya. Naluri keibuan, sebagai pemelihara, yang mengayomi dan pemberi makan tidak pernah terhapus jiwa mereka. Dalam usia setua berapapun, mereka tetap bekerja, asal kebutuhan anak-anaknya dapat terpenuhi. Inilah salah contoh yang diperlihatkan oleh ibu Ina Warni disalah satu desa di Kabupaten Nias Utara. Bersama dengan suaminya (dalam foto tidak kelihatan) meruntuhkan bukit-bukit, untuk mendapatkan batu-batu yang kemudian di jual kepada pemborong yang sedang mengerjakan pembangunan jalan. Harga satu truk batu dibeli Rp.120.000,- dan batu-batu lembek campur tanah (dalam bahasa Nias disebut “Gara Buchõ”) dibeli seharga Rp.40.000,- Untuk mendapatkan satu truk batu maka penggalian dikerjakan lima sampai enam hari kerja, tergantung ketersediaan batunya, kata ibu Warni. Melakukan pekerjaan sebagai penggali batu setelah mengerjakan pekerjaan rutin setiap hari yaitu pagi hari pergi ke kebon mencari makanan ternak dan kembali ke rumah mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci dan lain-lain. Bahkan banyak ibu-ibu yang lain pada pagi subuh sudah harus berangkat menyadap karet. Lanjut Baca »

ADAT NIAS “TAOLE MBAWI”

Sedang melakukan "Taole Mbawi"Kekayaan budaya, khususnya adat atau tradisi masyarakat Nias tidak kalah dengan daerah-daerah lain di Nusantara. Budaya adat masyarakat Nias, tidak sekedar lompat batu, tari perang dan tari elang, yang sering diperlihatkan di media masa atau di acara-acara penyambutan tamu. Ada banyak pernik-pernik adat Nias pada sebuah peristiwa. Hal ini bisa dilihat misalnya pada peristiwa pernikahan. Dalam pernikahan selain tahap-tahap yang cukup njelimet kalau semua diikuti (ada banyak ketua-ketua adat sekarang yang mulai menyederhanakan), ada satu tata cara yang menarik untuk diperlihatkan, yaitu acara “Taole mbawi”, yang dalam bahasa Indonesia lebih kurang berarti, “pemberian ikatan khusus pada punggung seekor babi”. Acara “Taole mbawi” hanya dapat disaksikan pada acara pernikahan dan di rumah mempelai laki-laki.

Makanlah sayang, ini enak lhoPernikahan dalam adat masyarakat Nias, yang disebut jujuran atau mas kawin adalah terdiri dari berapa ekor babi, berapa juta uang dan berapa karung beras. Jujuran ini bukan untuk menjadi harta keluarga perempuan atau harta awal dari keluarga penganten, semuanya adalah sebagai kebutuhan yang dipergunakan pada setiap tahap yang dilalui. Dari sekian ekor babi yang harus disediakan oleh keluarga mempelai pria, ada dua ekor yang ukurannya harus besar-besar. Satu ekor minimal, dalam bahasa Nias 8 alisi, atau kl 80 kg. sehingga kadang sangat sulit untuk mencari yang ukurannya sama persis dengan permintaan. Biasanya yang ukuran paling besar diperuntukkan bagi orang tua penganten perempuan dan lainnya untuk masyarakat desa, tempat keluarga perempuan berada. Ini hanya symbol, sebab ketika dua ekor babi ini di sembelih, maka yang terjadi adalah bahwa yang diperuntukkan bagi orang tua penganten dibelah dua, setengah bagian untuk orang tua penganten tetapi yang setengahnya lagi dikembalikan kepada penganten laki-laki. Sementara yang seekor lagi dibagi dua juga, setengah untuk masyarakat desa dan setengahnya lagi untuk semua family dari orang tua penganten perempuan. Lanjut Baca »

Aduh beratnya kayu iniAnak-anak di desa, lain dengan anak-anak di kota. Anak-anak di kota, waktu yang tersedia sepulang sekolah dapat digunakan untuk bermain bersama teman-temannya. Ada juga yang mengikuti pelajaran tambahan, ektra kurikuler. Atau orang tua menambah pendidikan anak-anak lewat bimbingan belajar atau les tambahan di luar sekolah. Belum lagi pendidikan informal lewat berbagai informasi yang dilihat dan didengar oleh anak-anak dengan membaca media masa koran dan majalah atau mendengar radio dan TV, dan lain-lain. Karena itu anak-anak di kota, dengan kesempatan yang begitu banyak untuk belajar, kecenderungan menjadi anak-anak pintar menjadi sangat besar. Sehingga generasi penerus yang berkualitas tetap didominasi oleh anak-anak yang tinggal di kota-kota besar.

Inikah pendidikan ekstar kurikuler kami ?Lain dengan anak-anak yang tinggal di desa. Masih kecil atau masih remaja sudah harus bekerja berat. Bagi mereka selain sekolah mereka juga harus membantu orang tua mereka. Inilah yang dilihat langsung terjadi pada anak-anak SD dan SMP di Pulau Nias. Hampir semua anak-anak sekolah di Nias, mulai dari SD bahkan sampai SMU, waktu yang masih tersedia sepulang sekolah bukan untuk bermain dengan teman-teman sebayanya atau mengikuti tambahan pelajaran lewat les atau bimbingan belajar. Tetapi mereka mengisi waktu yang ada itu dengan membantu orang tua bekerja di ladang atau di kebun. Misalnya mencari kayu bakar di hutan, mencari umbi-umbian untuk makanan ternak, menggali batu untuk pembangunan jalan dengan honor ala kadarnya. Bahkan dapat juga disuruh untuk mengangkut kayu dari hutan yang diperuntukkan untuk bangunan rumah. Dan honor atau gaji yang mereka terima bukan untuk jajan tetapi untuk menambah penghasilan keluarga mereka. Pandangan yang dimiliki oleh para orang tua bahwa belajar itu ya, hanya ketika ada di sekolah, pada jam belajar di ruang kelas. Setelah itu, ketika sudah berada di rumah ya, anak-anak harus membantu orang tua, turut menjadi tenaga kerja lokal bagi ekonomi keluarga. Lanjut Baca »