Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2009

Bukit ini dirubuhkan oleh bunda untuk mengambil batunya.Peribahasa “sorga di telapak kaki ibu” belum sepenuhnya dapat dimengerti apa maknanya. Kata “sorga” itu sendiri tentu menggambarkan keindahan, kebahagiaan, kedamaian. Lalu apakah gambaran itu yang senantiasa mengiringi langkah dan kehidupan seorang ibu atau bunda ? Seorang wanita pada momen-momen tertentu dalam hidupnya, ia pasti merasakan apa yang dinamakan kebahagiaan dan keindahan. Paling tidak, misalnya ketika ia dinobatkan sebagai seorang ratu kala menikah membentuk sebuah rumah tangga. Tidak lama kemudian ketika melahirkan anak-anaknya di bumi ini, sempurnalah dia sebagai seorang perempuan. Begitu juga kelak ketika anak-anak itu semakin besar, kemudian sang ibu menyaksikan keberhasilan-keberhasilan yang anak-anaknya peroleh. Apalagi sampai pada saat dapat menyaksikan cucu-cucunya, betapa bahagia hidup yang dijalani oleh seorang ibu.

Namun para bunda yang tinggal di pedesaan, dimana kehidupan serba kekurangan, mereka tak pernah terbebas dari pekerjaan kasar dan berat. Untuk mempertahankan hidup atau membiayai putra-putri mereka yang menuntut ilmu di negeri rantau, pekerjaan seberat apapun, asal halal, mereka melakukannya. Naluri keibuan, sebagai pemelihara, yang mengayomi dan pemberi makan tidak pernah terhapus jiwa mereka. Dalam usia setua berapapun, mereka tetap bekerja, asal kebutuhan anak-anaknya dapat terpenuhi. Inilah salah contoh yang diperlihatkan oleh ibu Ina Warni disalah satu desa di Kabupaten Nias Utara. Bersama dengan suaminya (dalam foto tidak kelihatan) meruntuhkan bukit-bukit, untuk mendapatkan batu-batu yang kemudian di jual kepada pemborong yang sedang mengerjakan pembangunan jalan. Harga satu truk batu dibeli Rp.120.000,- dan batu-batu lembek campur tanah (dalam bahasa Nias disebut “Gara Buchõ”) dibeli seharga Rp.40.000,- Untuk mendapatkan satu truk batu maka penggalian dikerjakan lima sampai enam hari kerja, tergantung ketersediaan batunya, kata ibu Warni. Melakukan pekerjaan sebagai penggali batu setelah mengerjakan pekerjaan rutin setiap hari yaitu pagi hari pergi ke kebon mencari makanan ternak dan kembali ke rumah mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci dan lain-lain. Bahkan banyak ibu-ibu yang lain pada pagi subuh sudah harus berangkat menyadap karet. (lebih…)

Read Full Post »