Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2009

ADAT NIAS “TAOLE MBAWI”

Sedang melakukan "Taole Mbawi"Kekayaan budaya, khususnya adat atau tradisi masyarakat Nias tidak kalah dengan daerah-daerah lain di Nusantara. Budaya adat masyarakat Nias, tidak sekedar lompat batu, tari perang dan tari elang, yang sering diperlihatkan di media masa atau di acara-acara penyambutan tamu. Ada banyak pernik-pernik adat Nias pada sebuah peristiwa. Hal ini bisa dilihat misalnya pada peristiwa pernikahan. Dalam pernikahan selain tahap-tahap yang cukup njelimet kalau semua diikuti (ada banyak ketua-ketua adat sekarang yang mulai menyederhanakan), ada satu tata cara yang menarik untuk diperlihatkan, yaitu acara “Taole mbawi”, yang dalam bahasa Indonesia lebih kurang berarti, “pemberian ikatan khusus pada punggung seekor babi”. Acara “Taole mbawi” hanya dapat disaksikan pada acara pernikahan dan di rumah mempelai laki-laki.

Makanlah sayang, ini enak lhoPernikahan dalam adat masyarakat Nias, yang disebut jujuran atau mas kawin adalah terdiri dari berapa ekor babi, berapa juta uang dan berapa karung beras. Jujuran ini bukan untuk menjadi harta keluarga perempuan atau harta awal dari keluarga penganten, semuanya adalah sebagai kebutuhan yang dipergunakan pada setiap tahap yang dilalui. Dari sekian ekor babi yang harus disediakan oleh keluarga mempelai pria, ada dua ekor yang ukurannya harus besar-besar. Satu ekor minimal, dalam bahasa Nias 8 alisi, atau kl 80 kg. sehingga kadang sangat sulit untuk mencari yang ukurannya sama persis dengan permintaan. Biasanya yang ukuran paling besar diperuntukkan bagi orang tua penganten perempuan dan lainnya untuk masyarakat desa, tempat keluarga perempuan berada. Ini hanya symbol, sebab ketika dua ekor babi ini di sembelih, maka yang terjadi adalah bahwa yang diperuntukkan bagi orang tua penganten dibelah dua, setengah bagian untuk orang tua penganten tetapi yang setengahnya lagi dikembalikan kepada penganten laki-laki. Sementara yang seekor lagi dibagi dua juga, setengah untuk masyarakat desa dan setengahnya lagi untuk semua family dari orang tua penganten perempuan. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Aduh beratnya kayu iniAnak-anak di desa, lain dengan anak-anak di kota. Anak-anak di kota, waktu yang tersedia sepulang sekolah dapat digunakan untuk bermain bersama teman-temannya. Ada juga yang mengikuti pelajaran tambahan, ektra kurikuler. Atau orang tua menambah pendidikan anak-anak lewat bimbingan belajar atau les tambahan di luar sekolah. Belum lagi pendidikan informal lewat berbagai informasi yang dilihat dan didengar oleh anak-anak dengan membaca media masa koran dan majalah atau mendengar radio dan TV, dan lain-lain. Karena itu anak-anak di kota, dengan kesempatan yang begitu banyak untuk belajar, kecenderungan menjadi anak-anak pintar menjadi sangat besar. Sehingga generasi penerus yang berkualitas tetap didominasi oleh anak-anak yang tinggal di kota-kota besar.

Inikah pendidikan ekstar kurikuler kami ?Lain dengan anak-anak yang tinggal di desa. Masih kecil atau masih remaja sudah harus bekerja berat. Bagi mereka selain sekolah mereka juga harus membantu orang tua mereka. Inilah yang dilihat langsung terjadi pada anak-anak SD dan SMP di Pulau Nias. Hampir semua anak-anak sekolah di Nias, mulai dari SD bahkan sampai SMU, waktu yang masih tersedia sepulang sekolah bukan untuk bermain dengan teman-teman sebayanya atau mengikuti tambahan pelajaran lewat les atau bimbingan belajar. Tetapi mereka mengisi waktu yang ada itu dengan membantu orang tua bekerja di ladang atau di kebun. Misalnya mencari kayu bakar di hutan, mencari umbi-umbian untuk makanan ternak, menggali batu untuk pembangunan jalan dengan honor ala kadarnya. Bahkan dapat juga disuruh untuk mengangkut kayu dari hutan yang diperuntukkan untuk bangunan rumah. Dan honor atau gaji yang mereka terima bukan untuk jajan tetapi untuk menambah penghasilan keluarga mereka. Pandangan yang dimiliki oleh para orang tua bahwa belajar itu ya, hanya ketika ada di sekolah, pada jam belajar di ruang kelas. Setelah itu, ketika sudah berada di rumah ya, anak-anak harus membantu orang tua, turut menjadi tenaga kerja lokal bagi ekonomi keluarga. (lebih…)

Read Full Post »

Gadis Nias memang cantikSetelah Nias Utara menjadi sebuah Kabupaten, kini baik pemda maupun masyarakat mulai giat mencari peluang bidang-bidang apa saja yang segera dapat digarap dan dikembangkan. Dan salah satu bidang yang banyak dibicarakan saat ini adalah daerah pantai sebagai daerah yang dapat segera dikembangkan menjadi tempat kunjungan wisata. Dari segi geografis ternyata Daerah Kabupaten Nias Utara kurang-lebih dua pertiga di kelilingi oleh pantai. Mulai dari Awa’ai kecamatan Sitõlu Õri terus menyusuri Tuhemberua, kecamatan Sawõ, Lafau di Lahewa Timur, pantai Ture Galõkõ dan pantai Toyolawa di kecamatan Lahewa, pantai Afulu dan Salonako di kecamatan Afulu.
Dari sekian banyak calon pantai wisata itu, sekarang salah satu yang terkenal adalah pantai Ture Galõkõ di Desa Balõfadoro Tuho. Pada hari-hari libur puluhan kendaraan roda empat dan roda dua yang datang dari berbagai tempat beriring-iringan memasuki pantai ini. Pantai ini sudah menjadi pilihan masyarakat untuk menikmati semilirnya angin pantai dan sambil berenang menikmati bening dan birunya air laut. Keadaan ini pun mendapat sambutan dari masyarakat sekitar dengan mendirikan saung-saung di pinggir pantai untuk menjadi tempat berteduh, tempat istirahat sambil menikmati kopi, teh, soft drink atau air kelapa muda. Bagi masyarakat sekitar bahwa tamu yang datang tidak boleh dibiarkan kehausan atau kelaparan, karena itu mereka menyediakan semua yang dibutuhkan oleh para wisatawan local ini, termasuk kalau menginginkan ikan bakarnya yang cukup nikmat. Demikian juga Pemda (masih pemda Nias) sekarang ini sedang membangun sebuah bangunan yang dapat dijadikan tempat pertunjukkan, yang disekitarnya dibangun pula kamar mandi dan sarana lainnya.
Dua dara manis ini, ditemui di pantai Ture GalokoKeistimewaan pantai ini karena jaraknya cukup dekat dari kecamatan Lahewa, yaitu kurang lebih hanya empat kilo meter. Dan dari Kecamatan Lotu, ibukota Kabupaten Nias Utara hanya 25 kilo meter, kurang lebih setengah jam dengan kendaraan roda empat. Sementara dari Kota Gunung Sitoli jaraknya 80 km yang dapat ditempuh kurang lebih 2 jam saja. Bagi para pengunjung sebelum menginjakkan kaki di pantai, akan melewati rumah-rumah nelayan yang tegak tersusun rapi di kiri-kanan jalan dan seakan berdiri berbaris dengan pohon-pohon kelapa, sehingga mata menjadi syahdu dan hatipun menjadi damai. Kemudian begitu tiba di pantai, akan melihat indahnya lautan luas nan biru menyentuh kaki langit, sementara kaki sendiri dapat menyentuh atau berjalan di atas batu-batu karang yang sudah disusun sedemikian rupa oleh alam. (lebih…)

Read Full Post »

Sejak dilantik sebagai Plt.Bupati di Kabupaten Nias Utara oleh Mendagri di Jakarta pada tanggal, 26 Mei 2009, Bapak Tolo’aro Hulu (Ama Vica) selalu berkoordinasi dengan Bupati Kabupaten Nias, Binahati Baeha dalam memulai berbagai tugas di DOB tersebut. Koordinasi diperlukan dalam rangka menata organisasi pemerintahan. Dari hasil koordinasi itu maka pada tanggal 25 Agustus 2009 lalu Bupati Nias menyerahkan seluruh perlengkapan, pegawai dan asset yang masuk wilayah Kanira kepada Plt. Bupati Kanira. Pegawai pemerintah yang ada di wilayah Kanira seperti para Camat dan Karyawan di kantor Camat dan kelurahan diserahkan menjadi Camat dan Karyawan Kanira. Bahkan ditambah lagi sebanyak 52 orang pegawai Kabupaten Nias juga diberikan untuk Kabupaten Nias Utara.

Oleh karena sejak Kanira di Undangkan tanggal 26 Oktober 2008 dan Plt dilatik 26 Mei 2009 belum diadakan pertemuan dengan seluruh masyarakat di Kanira, maka pada Sabtu 19 September 2009 dilakukan acara yang diberi nama “Syukuran atas terbentuknya Kanira dan pengantar tugas Penjabat Bupati Kanira” di tempat calon ibukota Kanira yaitu Kecamatan Lotu. Acara ini dihadiri langsung oleh Ketua BPP Kanira Jakarta dan memberi sambutan mewakili BPP Kanira. Oleh sebab itu informasi berikut adalah sebagai hasil liputan langsung atas acara tersebut. Acara ini secara umum dinilai sangat sukses, tidak hanya dari segi yang hadir yaitu masyarakat yang berasal dari setiap kecamatan dan para undangan tetapi didukung pula cuaca yang bersahabat. Sepanjang hari Sabtu itu tidak turun hujan sekalipun kadang awan hitam terlihat menggantung di atas langit tempat acara berlangsung, tetapi hanya sebentar karena segera menghilang dibawa angin. Susunan acara bagus dan juga pelaksaannya.

Acara dimulai pada pukul 10.30, terlambat setengah jam dari yang tertera di surat undangan. Bagian pertama dari acara diawali dengan laporan Ketua Panitia Syukuran yaitu Bapak Darius Baeha (Ama Iman). Beliau adalah pegawai di DDN Jakarta yang sudah pindah ke Kanira setelah Kanira menjadi DOB. Setelah itu acara fangowai dan fame’afo secara adat Nias, yang dilakukan oleh tokoh-tokoh adat dan ibu-ibu Ina mbanua. Baru kemudian acara kebaktian syukur, yang dipimpin oleh seorang Pendeta dan Doa syafaat oleh seorang Pastor. Setelah itu, acara pemberian gelar adat kepada Bupati Nias, Binahati Baeha, atas usahanya bersama dengan komponen masyarakat lainnya, berhasil mewujudkan sebuah Kanira. Masyarakat Kabupaten Nias Utara sepakat memberi gelar adat sebagai BALUGU YAWA ZATARO kepada Bupati Nias dan INADA BARASI SAMAERI kepada isterinya. Cara pemberian gelar adat ini dengan cara lahuhugo dan penyematan baju adat Nias dan topi kebesaran Nias kepada Bupati Nias. Sementara bagi isterinya adalah dengan diberi “Bola Nafo” sebagai simbolnya. Demikian pula kepada Plt.Bupati Kanira, diberi baju adat dan topi kebesaran Nias sebagai tanda bahwa masyarakat Kanira menyambut kedatangan Pj.Bupati untuk melaksanakan tugasnya sesuai dengan Peraturan.

Bupati Nias memakai Topi Balugu Yawa Sataro

Bupati Nias memakai Topi Balugu Yawa Sataro


Setelah seremoni syukur ini, dilanjutkan dengan acara (yang dianggap sebagai bagian ke II) sambutan-sambutan. Di dahului dengan menyanyikan lagu “Tano Niha” oleh seluruh hadirin. Lagu ini memang sungguh menggugah. Setiap menyanyikan lagu ini apalagi bersama-sama, jiwa raga dan bathin terhanyut untuk mendengar panggilan bahwa “bangunlah pulau niasmu sebab ia menyimpan harta karun untuk membebaskan rakyatnya dari belenggu kemiskinan”. Sambutan-sambutan kemudian disampaikan berturut-turut oleh Fanolo Hulu sebagai tim fasilitasi acara syukuran. Mewakili BPP Kanira oleh Pdt.Herman Baeha, yang menceritakan awal terbentuknya BPP Kanira baik yang di Jakarta, Gunung Sitoli dan Medan dan pekerjaan yang dilakukan (secara singkat) selama lima tahun dari tebentuknya pada tahun 2003 sampai Kanira menjadi sebuah Kabupaten akhir Oktober 2008 dan juga menyampaikan harapan-harapan kepada Penjabat Bupati Kanira, agar membangun pondasi yang kokoh bagi Kanira agar bangunan di atasnya dapat berdiri tegak dan kokoh. Mewakili tokoh masyarakat Kanira Bapak Hanati Nazara (mantan Bupati Nias), yang menegaskan pesan Presiden Soekarno tentang “Jas Merah”, yang artinya “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”. Kemudian kata sambutan Penjabat Bupati Nias Utara, Tolo’aro Hulu dan terakhir Bupati Nias, Binahati Baeha, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa seluruh dokumen dan peralatan asset yang masuk wilayah Kanira sudah diserahkan termasuk 1095 pegawai bahkan ditambah 52 orang dari kabupaten induk di pindahkan ke Kanira. (lebih…)

Read Full Post »