Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2009

Cerita ini kiranya dapat menyadarkan anda bahwa keberhasilan yang didapatkan saat ini, dalam bidang apa pun, adalah karena ada orang-orang yang telah sungguh-sungguh berkorban. Kakak atau adik anda telah rela tidak meneruskan sekolahnya demi agar kita dapat sekolah; ada yang bersedia terus tinggal di kampung, sekalipun hatinya menolak, agar anda dapat merantau dan menikmati kehidupan kota besar. Barangkali mereka tidak hanya sekedar diingat tetapi alangkah bahagianya mereka ketika anda dapat memberi mereka penghargaan yang layak, sebelum tubuh dibalut tanah. Kini bacalah cerita berikut dengan pelan dan resapilah makna pesan yang ada di dalamnya. Salam.

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!” (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

BELAJAR DARI MUHAMMAD YUNUS

Ini adalah sepenggal kisah Muhammad Yunus :

Saya mengajar ilmu ekonomi di salah satu universitas di Bangladesh yang sedang dilanda kelaparan hebat. Sebagai doctor yang baru lulus dari AS sangat antusias mengajar berbagai teori ilmu ekonomi. Tetapi begitu selesai mengajar, di luar kampus atau di jalan-jalan saya langsung saja melihat kerangka hidup berkeliaran, yaitu orang-orang yang sekarat tinggal menunggu ajal. Di sini saya sadar bahwa apa yang saya pelajari dan ajarkan hanya khayalan, karena tidak punya arti bagi kehidupan orang-orang itu. Akhirnya saya mencoba melihat kehidupan orang-orang kampung di sebelah universitas menjalankan kehidupan mereka. Saya bertemu dengan seorang wanita yang membuat anyaman bambu tetapi hanya menghasilkan dua sen sehari. Wanita ini bercerita bahwa karena tidak punya uang untuk membeli bambu, dia harus meminjamnya dari seorang pedagang. Dan pedagang ini membuat suatu aturan bahwa anyaman bambu itu harus di jual kepadanya dengan harga yang ia tentukan sendiri. Tapi sebenarnya, berapa harga anyaman bambu itu kalau dijual di pasar ? Wanita ini menjawab sekitar 20-an sen. Jadi saya menemukan bahwa ada orang yang bekerja begitu keras, tetapi hanya mendapat penghasilan sebegitu kecil. (lebih…)

Read Full Post »