Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2008

APA SETELAH BPP KANIRA SELESAI

Pengesahan terbentuknya KANIRA atau Kabupaten Nias Utara pada sidang paripurna DPR RI tanggal 29 Oktober lalu, maka dengan sendirinya pekerjaan BPP KANIRA akan segera berakhir. Sebab istilah “BPP” pada waktu dibentuk artinya Badan Persiapan Pembentukan. Jadi begitu KANIRA terbentuk berarti tugas BPP selesai. Namun untuk dinyatakan BPP KANIRA berakhir perlu dipersiapkan, sebab tidak mungkin pengurus BPP KANIRA membubarkan diri begitu saja. Perlu ada laporan pertanggungjawaban dan disampaikan pada suatu pertemuan warga Nias Utara, sebagaimana sejarah terbentuknya BPP KANIRA bahwa dibentuk dan diangkat dari dan oleh sebuah pertemuan warga Nias Utara pada 7 Juni 2003 di rumah bapak Ama Sua (Hanati Nazara, SH, mantan Bupati Nias) di Cipanas Jawa Barat. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Ada banyak harapan setelah terbentuknya Kabupaten Nias Utara. Harapan tersebut adalah yang langsung dapat di rasakan oleh rakyat. Harapan itu adalah mimpi. Orang yang tidak berpengharapan, yang tidak punya mimpi adalah menjadi seseorang yang tidak punya masa depan. Dengan pengharapan, paling tidak seseorang tidak dikuasai dan diikat oleh hidupnya saat ini. Atau dengan puasnya berkata: hidupku hanya hari ini saja. Ungkapan bijak ini kiranya menegur kita bahwa : “pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita…”.
Salah satu pengharapan setelah terbentuknya KANIRA adalah bagaimana rakyat dapat setiap saat dapat datang pulang pergi ke pusat-pusat pasar untuk melakukan transaksi bisnis atau sekedar membentuk rasa ingin maju dalam dirinya. Kalau diamati KANIRA memiliki poros-poros sebagai pusat bisnis, yaitu Kecamatan Tuhemberua, Kecamatan Lotu, Kecamatan Lahewa, Kecamatan Alasa dan kecamatan Afulu. Dan pasar yang paling hidup saat ini adalah pasar di kecamatan Lahewa. Jadi betapa indahnya kalau public transportation, atau sarana transportasi untuk rakyat dari Tuhemberua ke Lotu dan dari Lotu ke Lahewa (poros satu), dari Alasa ke Lahewa (poros dua), dan dari Afulu ke Lahewa (poros tiga) dilayani oleh sarana transportasi gratis yang dikelola oleh pemda. Kalau ini berhasil, di mata rakyat, ini adalah salah satu bukti bahwa memang pemekaran itu adalah untuk mereka. Apalagi kalau termasuk sarana angkut hasil bumi seperti pisang, singkong, kelapa, karet, dll secara gratis disediakan oleh Pemda. Saya yakin akan timbul rasa hormat dan bangga seluruh rakyat kepada pemerintahnya. Dan pemerintah pun betul-betul nyata memikirkan dan mengutamakan kepentingan rakyatnya.
Seandainya harapan atau mimpi ini menjadi kenyataan ada beberapa pengaruh positif yang akan terjadi. Pertama, rakyat tidak terhambat oleh karena ketiadaan uang untuk pergi ke pasar, mungkin sekedar jalan-jalan atau menambah pergaulan, wawasan, menghibur diri, dll. Kedua, pasar atau poros-poros tadi menjadi hidup karena lalulintas manusia bertambah. Suatu hukum pasar, bahwa dimana manusia berkumpul di situ juga para pedagang bermunculan. Ketiga, pasar yang hidup akan memberikan efek domino pada PAD melalui pajak restoran, makanan, atau kegiatan-kegiatan lain. Keempat, meminimalkan rasa cemburu rakyat ketika para pejabat pemerintah kalau bepergian ke kantor atau kemanapun selalu naik mobil.
Memang mimpi ini memerlukan pengkajian lebih lanjut. Sebab akan menimbulkan pertanyaan seperti : apakah tidak mematikan usaha rakyat yang mengelola sarana trasnportasi; dari mana pemda mendapatkan modal untuk membeli sarana angkutan itu dan bagaimana dengan biaya operasionalnya; apakah setiap hari, setiap dua jam atau berapa kali seminggu melewati poros-poros lalulintas tadi. Memang ini perlu dipercakapkan. Tapi saya yakin bahwa ini adalah harapan kita semua, rakyat kabupaten nias utara.
Salam, pamaita.

Read Full Post »

Sebelum BRR berakhir pada bulan April 2009, diharapkan jalan dari Gunungsitoli ke Lahewa yang dibangun dengan aspal kotmix sudah selesai dikerjakan. Dengan demikian waktu tempuh dari Gunungsitoli ke Kecamatan Lahewa dapat dicapai dalam satu jam dengan naik motor dan satu setengah jam dengan mobil. Demikian pula diharapkan jalan yang melewati kecamatan Tuhemberua dan sawō menuju kecamatan Lotu, dan dari Alasa menuju Kecamatan Lotu serta dari Kecamatan Afulu ke Kecamatan Lahewa.
Pembangunan jalan-jalan yang seperti dilakukan BRR, jelas tidak dapat disanggupi oleh Pemda Kabupaten Nias bahkan juga Kabupaten Nias Utara karena anggaran yang sangat terbatas. Apalagi dengan menggunakan aspal hotmix. Karena itu, kita sangat bersyukur kalau program pembangunan BRR itu dapat terlaksana dengan baik atau terus dilanjutkan oleh Badan/Lembaga baru nantinya. Namun tentu saja persoalan tidak berarti selesai di situ. Di depan mata menanti sebuah pekerjaan yang tidak kalah besarnya yaitu bagaimana memelihara atau merawatnya, sehingga jalan yang mulus nan indah itu tidak kembali menjadi kubangan seperti semula sebelum dibangun.
Semua tahu bahwa jalan adalah urat nadi perekonomian, maka untuk memelihara dan merawat jalan tersebut saya bermimpi melalui tiga opsi. Pertama, melibatkan langsung masyarakat sebagai stake holder atas prasarana tersebut. Rakyat diingatkan dan didorong bahwa merekalah yang punya jalan itu, rasa memiliki harus sedemikian ditumbuhkan. Oleh karena itu tiap desa harus bertanggung jawab atas sepanjang jalan yang melalui desanya. Bisa melakukan gotong royong sebulan sekali untuk membersihkan saluran air, membersihkan kiri-kanan jalan sambil menanam bunga-bunga bagus. Gotong royong ini dengan koordinasi dari kepala desa dan dukungan dari ketua-ketua adat ditambah perintah langsung dari Camat. Sekiranya ada jalan yang mulai berlubang karena hujan, maka di sini fungsi kimpraswil/PU untuk segera memperbaikinya.
Kedua, dengan mengangkat tenaga kontrak dari masyarakat yang diberi honor setiap bulan dengan tanggung jawab atas pemeliharaan/kebersihan jalan 1-2 km setiap orang. Pekerjaan yang dilakukan tentu harus dirumuskan dengan jelas. Opsi ini memungkinkan pemuda yang putus sekolah atau beberapa orang rakyat memperoleh penghasilan tambahan. Ketiga, dengan di tenderkan pada pengusaha lokal untuk merawat dan memelihara jalan-jalan tersebut, selama satu tahun atau dua tahun yang dapat diperpanjang kalau kinerjanya dinilainya bagus.
Opsi apapun yang dipilih, maka agar menimbulkan daya saing yang sehat maka perlu ditambah lagi yaitu melakukan perlombaan setahun sekali. Kriteria penilaian dapat disusun seperti kebersihan jalan dan saluran air, keindahan kiri-kanan jalan, termasuk biaya minim yang dikeluarkan oleh pemerintah pada setiap kilo meter jalan. Dengan demikian rakyat atau desa diharapkan tumbuh rasa memilikinya dan cara berpikirnya bisa berubah, bahwa pembangunan apapun sebenarnya adalah dari, oleh dan untuk masyarakat. Pemerintah adalah hanya sebagai fasilitator dan koordinator saja.
Salam, pamaita.

Read Full Post »

DAHSYATNYA KATA “YAHOWU”

Sebuah kisah yang amat sayang kalau tidak dituliskan. Sebab kalau tidak tertulis maka dengan mudah berlalu dan terlupakan. Kisahnya adalah terjadi di ruang sidang paripurna DPR RI di Senayan Jakarta, Rabu, 29 Oktober 2008. Ketika fraksi-fraksi menyampaikan pandangan akhir tentang persetujuan pemekaran 12 daerah otonomi baru, yang di dalamnya termasuk Kabupaten Nias Utara, Barat dan Kota Gunung Sitoli. Pada saat itu ucapan “yahowu” tiga kali diteriakkan dengan lantang oleh 2 orang anggota dewan dalam ruang sidang paripurna tersebut.
Pertama terdengar ketika wakil dari fraksi PDIP, yaitu Eka Santoso, membacakan pandangan akhir fraksinya. Sebelum ia membacakan teks yang sudah dipersiapkan maka beliau meneriakkan kata “yahowu” di ruang sidang tersebut. Tentu saja dengan serta merta disambut gembira oleh kurang lebih 300 orang masyarakat Nias yang duduk di balkon, dengan ucapan “yahowu” pula. Kemudian ketika beliau mengakhiri pandangan fraksinya, sebelum turun dari podium sekali lagi beliau berteriak “yahowu”, dan disambut “yahowu” juga.
Kedua adalah ketika wakil dari PKS, yaitu Jajuli, membacakan pandangan akhir fraksinya. Setelah dan sebelum turun dari podium beliau juga meneriakkan kata “yahowu”, yang disambut juga “yahowu” oleh seluruh warga Nias yang duduk di balkon, bahkan sambil mereka melambai-lambaikan tangan.
Mengapa kedua anggota dewan ini sangat mengenal dan sangat familiar dengan kata “yahowu” ini sehingga memperdengarkannya di ruang sidang paripurna Dewan yang terhormat tersebut ? Ternyata mereka berdua menjadi rombongan anggota DPR yang datang ke pulau Nias sebelum-nya dalam rangkan melakukan kunjungan bertemu dengan masyarakat Nias untuk mendengar langsung dari rakyat tentang aspirasi rakyat tentang pemekaran daerah Nias. Jadi selama tiga hari berada di pulau Nias setiap mereka bertemu dengan rakyat, mereka disapa dengan “yahowu”. Apalagi pada acara-acara penyambutan maka kata “yahowu” ini terus mereka dengar sebagai ucapan selamat datang atau selamat berjumpa. Karena itu mereka pun sangat fasih dalam mengucapkan kata ini.
Jadi pada saat sidang paripurna DPR itu, masyarakat Nias benar-benar merasa bangga dan sekaligus sangat terharu. Pulau Nias yang sangat terpencil dan kecil, karena itu terbelakang dan miskin, orang Nias yang masih berjuang untuk maju dalam segala hal, Tetapi kata “yahowu” yang mereka cintai, yang merupakan ungkapan kebanggan mereka, bahkan salah satu yang menunjukkan identitas mereka dimana pun mereka berada, terdengar bergema dengan megahnya di dalam ruangan sidang paripurna DPR RI.
Oleh sebab itu seluruh warga Nias dimanapun berada di seantero bumi ini, janganlah melupakan kata “yahowu” ini. Bahkan perlu senantiasa di ajarkan kepada anak-anak kita, lebih-lebih pada anak-anak kita yang lahir dan bertumbuh tidak lagi di pulau Nias. Dengan demikian kata “yahowu” dapat sejajar dengan ungkapan yang sejenis, misalnya : horas, syalom, asalamalaikum. Sebab bukankah kata “yahowu” terdiri dari dua kata “ya” dan “howu”. “howu” artinya : howu-howu atau berkat. Berarti, yahowu adalah kiranya berkat ada padamu. Dan kalau sudah saling mengucapkan “yahowu”, berarti berkat selalu bersama kita. Indah bukan ?
Pamaita

Read Full Post »